Tampilkan postingan dengan label Swara NgaglikBerbagi ilmu di Pesantren Kulon Progo dan Gunung kidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Swara NgaglikBerbagi ilmu di Pesantren Kulon Progo dan Gunung kidul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2015

Swara Ngaglik Berbagi Ilmu Jurnalistik di Pesantren Pondok Pesantren Miftahul Jannah Kulon Progo dan Darul Qur’an Wal Irsyad Kepek Wonosari Gunung kidul

Swara Ngaglik Berbagi Ilmu Jurnalistik

di Pesantren  Pondok Pesantren Miftahul Jannah Kulon Progo 
dan
Darul Qur’an Wal Irsyad Kepek Wonosari Gunung kidul


Kantor Wilayah Kementrian Agama Republik Indonesa Daerah Istimewa Yogyakarta Up. Kepala bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, pada bulan April 2014 mempunyai program Orientasi junarlistik bagi santri pondok pesantren. Program tersebut dilaksanakan di wilayah kabupaten Kulon Progo pada tangggal 22 April 2014, dan kabupaten Gunung kidul pada tanggal 24 April 2014. Dengan narasumber Redaktur pelaksana Media Warga Swara Ngaglik Bapak Muhammad Maqshudi Usman. A.Md.



Program pengenalan junarlistik bagi santri bertujuan agar santri mengenal dunia junarlistik, dan lebih utama pada dunia tulis menulis,  mengingat santri merupakan aset kekayaan intelektual yang terpendam dan masih belum terbiasa bersentuhan dunia kepenulisan. Santri sudah terbiasa untuk mutholaah (mengkaji) pelajaran baik secara sendiri-sendiri maupun degan cara musyawarah (belajarbersama) di luar jam belajar secara resmi, tetapi masih sedikit antri yang berkiprah dalam dunia jurnalistik.
Jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, alat kontrol sosial, serta pendidik masyarakat. Mengingat begitu pentingnya peran jurnalistik dalam kehidupan masyarakat maka sudah selayaknya jika santri diharapkan ikut berperan aktif dalam dunia jurnalistik.
Pelaksanaan Orientasi jurnalistik bagi santri pondok pesantren di wilayah kabupaten Kulon Progro bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Jannah, dusun Kleben, desa Kaliagung, kecamatan Sentolo, yang di sepuhi oleh bapak Drs. KH. Muthofa, undangan sebanyak 50 pesantren. Masing-masing pesantren mengirmkan satu wakilnya.
Dari daftar hadir ternyata hanya 43 pesantren yang hadir,  di tambah dengan 2 santri dari tuan rumah, jumlah peserta seluruhnya 45 orang.
Hadir dalam acara tersebut Bapak Drs. H. Rohwan Hanafi Kasi Pontren, mewakili Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama DI Yogyakarta.  Acara dimulai pukul 13.45 dan diakhiri pada pukul 16.15 WIB.
Bapak Drs. KH. Muthofa tuan rumah yang juga sebagai sesepuh Forum Kumunikasi Pondok Pesantren kabupaten Kulon progro dalam sambutannya menyampaikan  bahwa santri sudah seharusnya memiliki ketrampilan dalam bidang tulis menulis dan lebih khusus pada dunia jurnalistik, beliau juga merencanakan setelah kegiatan orientasi, akan dilanjutkan pada program pelatihan penulisan dan program penerbitan media santri.
Drs. H. Rohwan Hanafi Kasi Pontren, “menulis merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan, ide, informasi, juga sebagai hiburan, santri hendaknya mulai membiasakan untuk menulis”.Sedangkan pelaksanaan Orientasi jurnalistik bagi santri pondok pesantren di wilayah kabupaten Gunung Kidul bertempat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad Kepek Wonosari Gunung kidul yang di asuh oleh bapak Drs. KH. Haris Masduki, peserta orientasi adalah santri pondok Darul Qur’an Wal Irsyad yang duduk di bangku MTs(SLP) 10 orang santri putra 5 orang, santri putri  putri 5.  Santri tingkat MA (SLA) sebanyak 20 orang, santri putra 10 orang,  santri putri 10 orang. Santri SMK sebanyak 20 orang, santri putra 10 orang dan santri putri 10 orang.  Jumlah total santri yang mengikuti orientasi jurnalistik sebanyak 50 orang, di tambah pendamping/pengurus pesantren 5 orang, jumlah total peserta 55 orang.  pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 12.15 WIB.
Bapak Drs H. Ahmad Hamim Kasi pondok pesantren yang mewakili  , mewakili Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama DI Yogyakarta menyampaikan pesan dalam sambutannya:”Belajar menulis dapat dilakukan dengan menulis kegiatan harian pada buku catatan harian, sebab dengan membiasakan menulis catatan harian kita akan menjadi mudah untuk mengingat-ingat peristiwa harian yang kita lihat dan kita kerjakan”.Bapak Muhammad Maqshudi Usman A.Md., selaku narasumber mengaku bahwa beliau adalah orang yang mempunyai sifat tidak bisa (ora isonan Jw), termasuk dalam bidang jurnalistik ini. Dan ternyata sifat tidak bisa yang di maksud adalah tidak bisa menolak permintaan,  juga tidak bisa menolak permintaan untuk melaksanakan tugas. Sebab dengan sifat tidak bisa itu akan tumbuh keinginan untuk belajar dan mencari tahu bagaimana cara kerja yang benar. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa : “Pengertian jurnalistik adalah perencanaan, pencarian, penulisan, dan penyajian berita, itu semua  sebenarnya sudah tertulis dengan jelas  al-Qur’an  yaitu: Perencanaan dan pencarian berita diperintahkan di dalam surat al-A’laq wahyu pertama yang diterima oleh rasulullah SAW “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”, proses penulisan  ada dalam surat al-Qolam ayat pertama “Nun., demi kalam dan apa yang mereka tulis,” sedangkan perintah penyampaian berita ada ada dalam surat an-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.“


Bapak Muhammad Maqshudi juga mengutip pesan hadlorotussyaikh al-maghfurllah mbah KH. Mufid Mas’ud,  pendiri pondok pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta dalam tausiyahnya pada penerbitan perdana Majalah Suara Pandanaran “Dahulu banyak pondok pesantren yang besar dan berpengaruh namun sekarang tidak dilanjutkan lagi, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya penulisan sirah(sejarah /kebijakkan visi, misi) para pendirnya, sehingga generasi penerusnya tidak sejalan dengan visi dan misi peletak dasar pendirian pesantren tersebut”.Mengakhiri paparan bapak Maqshudi menyampaikan pesan bahwa Allah tidak menciptakan manusia orang yang bodoh, tetapi Allah menciptakan manusia dengan di bekali akal, sehingga manusia akan dapat melakukan apapun asal mau menggunakan akal dalam arti mau membaca, agar bacaan itu bisa lebih tertanam dalam maka hendaknya kita mau menulisnya.