Swara Ngaglik Berbagi Ilmu Jurnalistik
di Pesantren Pondok Pesantren Miftahul Jannah Kulon Progo
dan
Darul Qur’an Wal Irsyad Kepek Wonosari Gunung kidul
Kantor Wilayah Kementrian Agama Republik Indonesa Daerah Istimewa Yogyakarta Up. Kepala bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, pada bulan April 2014 mempunyai program Orientasi junarlistik bagi santri pondok pesantren. Program tersebut dilaksanakan di wilayah kabupaten Kulon Progo pada tangggal 22 April 2014, dan kabupaten Gunung kidul pada tanggal 24 April 2014. Dengan narasumber Redaktur pelaksana Media Warga Swara Ngaglik Bapak Muhammad Maqshudi Usman. A.Md.

Program pengenalan junarlistik
bagi santri bertujuan agar santri mengenal dunia junarlistik, dan lebih utama
pada dunia tulis menulis, mengingat
santri merupakan aset kekayaan intelektual yang terpendam dan masih belum terbiasa
bersentuhan dunia kepenulisan. Santri sudah terbiasa untuk mutholaah (mengkaji)
pelajaran baik secara sendiri-sendiri maupun degan cara musyawarah (belajarbersama)
di luar jam belajar secara resmi, tetapi masih sedikit antri yang berkiprah
dalam dunia jurnalistik.
Jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pemberi informasi, pemberi hiburan, alat
kontrol sosial, serta pendidik masyarakat. Mengingat begitu pentingnya peran
jurnalistik dalam kehidupan masyarakat maka sudah selayaknya jika santri
diharapkan ikut berperan aktif dalam dunia jurnalistik.
Pelaksanaan Orientasi
jurnalistik bagi santri pondok pesantren di wilayah kabupaten Kulon Progro
bertempat di Pondok Pesantren Miftahul Jannah, dusun Kleben, desa Kaliagung,
kecamatan Sentolo, yang di sepuhi oleh bapak Drs. KH. Muthofa, undangan
sebanyak 50 pesantren. Masing-masing pesantren mengirmkan satu wakilnya.
Dari daftar hadir ternyata
hanya 43 pesantren yang hadir, di tambah
dengan 2 santri dari tuan rumah, jumlah peserta seluruhnya 45 orang.
Hadir dalam acara tersebut
Bapak Drs. H. Rohwan Hanafi Kasi Pontren, mewakili Kepala Bidang Pendidikan
Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementrian Agama DI Yogyakarta. Acara dimulai pukul 13.45 dan diakhiri pada
pukul 16.15 WIB.
Bapak Drs. KH. Muthofa tuan
rumah yang juga sebagai sesepuh Forum Kumunikasi Pondok Pesantren kabupaten
Kulon progro dalam sambutannya menyampaikan bahwa santri sudah seharusnya memiliki
ketrampilan dalam bidang tulis menulis dan lebih khusus pada dunia jurnalistik,
beliau juga merencanakan setelah kegiatan orientasi, akan dilanjutkan pada
program pelatihan penulisan dan program penerbitan media santri.
Drs. H. Rohwan Hanafi Kasi
Pontren, “menulis merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan, ide,
informasi, juga sebagai hiburan, santri hendaknya mulai membiasakan untuk
menulis”.Sedangkan pelaksanaan Orientasi
jurnalistik bagi santri pondok pesantren di wilayah kabupaten Gunung Kidul
bertempat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad Kepek Wonosari Gunung
kidul yang di asuh oleh bapak Drs. KH. Haris Masduki, peserta orientasi adalah
santri pondok Darul Qur’an Wal Irsyad yang duduk di bangku MTs(SLP) 10 orang
santri putra 5 orang, santri putri putri
5. Santri tingkat MA (SLA) sebanyak 20
orang, santri putra 10 orang, santri
putri 10 orang. Santri SMK sebanyak 20 orang, santri putra 10 orang dan santri
putri 10 orang. Jumlah total santri yang
mengikuti orientasi jurnalistik sebanyak 50 orang, di tambah
pendamping/pengurus pesantren 5 orang, jumlah total peserta 55 orang. pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 12.15
WIB.
Bapak Drs H. Ahmad Hamim Kasi
pondok pesantren yang mewakili ,
mewakili Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah
Kementrian Agama DI Yogyakarta menyampaikan pesan dalam sambutannya:”Belajar
menulis dapat dilakukan dengan menulis kegiatan harian pada buku catatan
harian, sebab dengan membiasakan menulis catatan harian kita akan menjadi mudah
untuk mengingat-ingat peristiwa harian yang kita lihat dan kita kerjakan”.Bapak Muhammad Maqshudi Usman
A.Md., selaku narasumber mengaku bahwa beliau adalah orang yang mempunyai sifat
tidak bisa (ora isonan Jw), termasuk dalam bidang jurnalistik ini. Dan
ternyata sifat tidak bisa yang di maksud adalah tidak bisa menolak permintaan, juga tidak bisa menolak permintaan untuk
melaksanakan tugas. Sebab dengan sifat tidak bisa itu akan tumbuh keinginan
untuk belajar dan mencari tahu bagaimana cara kerja yang benar. Dalam
paparannya beliau menyampaikan bahwa : “Pengertian jurnalistik adalah
perencanaan, pencarian, penulisan, dan penyajian berita, itu semua sebenarnya sudah tertulis dengan jelas al-Qur’an
yaitu: Perencanaan dan pencarian berita diperintahkan di dalam surat
al-A’laq wahyu pertama yang diterima oleh rasulullah SAW “Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”, proses penulisan ada dalam surat al-Qolam ayat pertama “Nun.,
demi kalam dan apa yang mereka tulis,” sedangkan perintah penyampaian
berita ada ada dalam surat an-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik.“
Bapak Muhammad Maqshudi juga
mengutip pesan hadlorotussyaikh al-maghfurllah mbah KH. Mufid Mas’ud, pendiri pondok pesantren Sunan Pandanaran
Yogyakarta dalam tausiyahnya pada penerbitan perdana Majalah Suara Pandanaran “Dahulu
banyak pondok pesantren yang besar dan berpengaruh namun sekarang tidak
dilanjutkan lagi, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya penulisan
sirah(sejarah /kebijakkan visi, misi) para pendirnya, sehingga generasi
penerusnya tidak sejalan dengan visi dan misi peletak dasar pendirian pesantren
tersebut”.Mengakhiri paparan bapak
Maqshudi menyampaikan pesan bahwa Allah tidak menciptakan manusia orang yang
bodoh, tetapi Allah menciptakan manusia dengan di bekali akal, sehingga manusia
akan dapat melakukan apapun asal mau menggunakan akal dalam arti mau membaca,
agar bacaan itu bisa lebih tertanam dalam maka hendaknya kita mau menulisnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar